Powered By Blogger

Kamis, 05 Maret 2015

serbuk daun bidara

serbuk bidara original 200 gram
harga 30rb

bisa untuk berendam (terapi ruqyah) ataupun untuk masker wajah.

Jumat, 30 Januari 2015

sidratul muntaha


Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Rhamnales
Famili: Rhamnaceae
Genus: Ziziphus
Spesies: Ziziphus mauritiana Lamk.
Pohon bidara memiliki ciri-ciri, tumbuhan berupa pohon, tinggi 5 – 15 m. batang bengkok dan bertonjolan. Ranting kerapkali menggantung. Daun bertangkai, bulat telur oval, 4 – 8 kali 2 – 7 cm, bertulang daun 3, bergerigi lemah, dari bawah putih atau cokelat larat seperti vilt. Daun penumpu bentuk duri, hampir selalu salah satu dari keduanya gagal tumbuhnya. Bunga dalam paying tambahan, bertangkai pendek atau duduk, berambut seperti vilt di ketiak. Daun pelindung bulat telur, berambut cokelat karat. Garis tengah bunga ±0,5 cm. kelopak kuning hijau, separuh jalan berlekuk 5, taju segi tiga bulat telur, dari dalam berlunas, dari luar bentuk vilt. Daun mahkota 5, bentuk telur terbalik, bentuk tudung, putih. Tonjolan dasar bunga datar, berekuk 10, engelilingi bakal buah yang beruang 2. Cabang tangkai putik 2. Buah baty berdaging, bentuk bola oval, panjang 1,5 – 2 cm, mula-mula kuning, kemudian merah tua, gundul. Di bawah 400 m, mungkin juga ditanam. Terutama umum di daerah kering.
Daun Bidara adalah salah satu tanaman yang disebut dalam al-Qur’an. Menurut yang diceritakan al-Qur’an dan Hadits daun Bidara memiliki banyak manfaat.
Nama-nama lain dari daun Bidara:
- Daun Seureuh
- Daun Cedar
- Daun Arabian Jujube
- Zizyphus Spina-Christi
Sidrat al-Muntahā (Arab: سدرة المنتهى‎ , Sidratul Muntaha) adalah sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit/Surga ke tujuh, sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya, menurut kepercayaan Islam. Dalam kepercayaan ajaran lain ada pula semacam kisah tentang Sidrat al-Muntahā, yang disebut sebagai “Pohon Kehidupan”.
Pada tanggal 27 Rajab selama Isra Mi’raj, hanya Muhammad yang bisa memasuki Sidrat al-Muntaha dan dalam perjalanan tersebut, Muhammad ditemani oleh Malaikat Jibril, dimana Allah memberikan perintah untuk Salat 5 waktu.
Dalam Agama Baha’i Sidrat al-Muntahā biasa disebut dengan “Sadratu’l-Muntahá” adalah sebuah kiasan untuk penjelmaan Tuhan.
Secara etimologi Sidrat al-Muntahā berasal dari kata sidrah dan muntaha. Sidrah adalah pohon Bidara, sedangkan muntaha berarti tempat berkesudahan, sebagaimana kata ini dipakai dalam ayat berikut:
“ Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An-Najm, 53:41-42) ”
Dengan demikian, secara bahasa Sidratul Muntaha berarti pohon Bidara tempat berkesudahan. Disebut demikian karena tempat ini tidak bisa dilewati lebih jauh lagi oleh manusia dan merupakan tempat diputuskannya segala urusan yang naik dari dunia di bawahnya maupun segala perkara yang turun dari atasnya. Istilah ini disebutkan sekali dalam Al-Qur’an, yaitu pada ayat:
“ …(yaitu) di Sidratil Muntaha. (An-Najm, 53:14) ”
  • Wujud Sidrat al-Muntahā
Sidratul Muntaha digambarkan sebagai Pohon Bidara yang sangat besar, tumbuh mulai Langit Keenam hingga Langit Ketujuh. Dedaunannya sebesar telinga gajah dan buah-buahannya seperti bejana batu. Menurut Kitab As-Suluk, Sidrat al-Muntahā adalah sebuah pohon yang terdapat di bawah ‘Arsy, pohon tersebut memiliki daun yang sama banyaknya dengan sejumlah makhluk ciptaan Allah.
Allah berfirman dalam surah An-Najm 16,
“ Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (an-Najm, 53: 16)”.
Dikatakan bahwa yang menyelimutinya adalah permadani terbuat dari emas.
Jika Allah memutuskan sesuatu, maka “bersemilah” Sidratul Muntaha sehingga diliputi oleh sesuatu, yang menurut penafsiran Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu adalah “permadani emas”. Deskripsi tentang Sidratul Muntaha dalam hadits-hadits tentang Isra Mi’raj tersebut hanyalah berupa gambaran (metafora) sebatas yang dapat diungkapkan kata-kata. Hakikatnya hanya Allah yang Maha Tahu.
  • Peristiwa di Sidratul Muntaha bagi Nabi Muhammad
Ketika Mi’raj, di sini Nabi Muhammad melihat banyak hal, seperti:
  • Melihat bentuk asli Malaikat Jibril
Dikatakan bahwa Muhammad telah melihat wujud asli dari Malaikat Jibril yang memiliki sayap sebanyak 600 sayap.
“ Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (An-Najm 53:13) ”
  • Melihat Tuhan
Dikatakan pula bahwa Muhammad telah melihat Allah yang berupa cahaya.
Untuk hal ini terdapat beda pendapat di kalangan ulama, apakah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat Tuhannya? Jika pernah apakah beliau melihat-Nya dengan mata kepala atau mata hati? Masing-masing memiliki argumennya sendiri-sendiri. Di antara yang berpendapat bahwa beliau pernah melihat-Nya dengan mata hati antara lain al-Baihaqi, al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dan Syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Syarah Aqidah ath-Thahawiyah. Salah satu argumentasi mereka adalah hadits di atas.
  • Mendapatkan Perintah Shalat
Di Sidratul Muntaha ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan perintah salat 5 waktu. Perintah melaksanakan salat tersebut pada awalnya adalah 50 kali setiap harinya, akan tetapi karena pertimbangan dan saran Nabi Musa serta permohonan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri, serta kasih dan sayang Allah Subhahanu wa Ta’ala, jumlahnya menjadi hanya 5 kali saja. Di antara hadits mengenai hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.
Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia telah berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diisrakan, beliau berakhir di Sidratul Muntaha (yang bermula) di langit keenam. Ke sanalah berakhir apa-apa yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan ke sana berakhir apa-apa yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana.”
Ia berkata: “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diberi tiga hal: Diberi salat lima waktu dan diberi penutup Surah al-Baqarah serta diampuni dosa-dosa besar bagi siapapun dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.
HR Muslim (173) dengan redaksi di atas, at-Tirmidzi (3276), an-Nasai (451), dan Ahmad
  • Informasi mengenai daun ini termaktub dalam al-Qur’an dan Hadits nabi:
    Surat AS-SABA ayat 16, yang artinya sebagai berikut: ”Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon sidr.”(Q.S. As-Saba,16).
    Surat Al-Waqi’ah ayat 28, yang artinya sebagai berikut: “Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.” (Q.S. Al-Waqi’ah,28).
Allah azza wa jalla berfirman:
“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas,dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak,” (QS. al-Waqi’ah (56) : 27-32)
Dalam tafsir disebutkan pohon bidara yang dimaksud adalah yang telah dihilangkan durinya ataupun  buahnya yang lebat, demikian pendapat Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.
Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh setelah menukil beberapa pendapat (tentang pohon bidara dalam ayat tersebut): Dhohirnya yang dimaksud adalah pohon bidara di dunia banyak durinya dan sedikit buahnya, adapun di akhirat kebalikannya, tidak ada durinya dan buahnya banyak.
v   ^Ketika orang kafir masuk Islam.
Mengenai wajibnya hal ini terdapat dalam hadits dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu,
“Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).”
(HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
v   Memandikan si mayit
Di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu ‘Athiyah dan kepada para wanita yang melayat untuk memandikan anaknya,
“Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).
v   ^ Mandi Wanita Haidh
“Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa “Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya….”(HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)
^Ibnu Katsir saat menafsirkan surah al-Baqarah, ayat 102 yang bercerita mengenai fitnah syetan kepada nabi Sulaiman menyebutkan bahwa untuk mengobati sihir, Insya Allah sebaiknya kita mengambil 7 helai daun bidara, kemudian ditumbuk halus, lalu dicampurkan tumbukan daun tersebut dengan air, dan dibacakan ayat kursi,
surat al-Falaq dan ayat-ayat lain yang bisa mengusir syetan.
2.1 Manfaat Daun Bidara
  1. Daun Bidara digunakan  memandikan Jenazah
Daun bidara dapat membersihkan kotoran, oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para wanita yang sedang memandikan jenazah putrid  beliau zainab “Mandikanlah dia dengan basuhan ganjil, tiga, lima, atau lebih dari itu kalau kalian pandang perlu. Mandikan jenazahnya dengan air dicampur daun bidara, dan basuhan yang terakhir dicampur dengan sedikit kapur barus.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Juga sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang berihrom kemudian meninggal karena terlempar oleh untanya sendiri:”Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara”(HR Bukhori dan Muslim).
  1. Daun bidara dignakan untuk Pengobatan Penyakit Sihir dan Guna-guna.
Daun bidara juga bemanfaat-dengan izin Alloh tentunya- untuk pengobatan gangguan sihir, ‘ain (mata jahat) dan suami yang tercegah dari menggauli istrinya, oleh karena itu para ulama menjelaskan caranya adalah ambil tujuh helai daun bidara yang bagus, kemudian bacakan doa dan ruqyah, tumbuk dan campurkan ke dalam air kemudian air digunakan untuk mandi dan minum si sakit.
  1. Dan termasuk dari faidah Tanaman Bidara sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rohimahulloh diantaranya: Buahnya bisa dimakan, mengobati diare, obat untuk penyakit perut, memperkuat fungsi hati dan empedu, meningkatkan nafsu makan, dll.

KESIMPULAN
 

Berdasarkan penjelasan mengenai daun bidara (Ziziphus mauritiana  Lamk.) dapat diambil kesimpulan bahwa:
  1. daun bidara mempunyai banyak sekali manfaat untuk manusia dan daun  bidara juga banyak di hubungkan dengan kejadian-kejadian pada masa Rasulullah sehingga pohon bidara ini menjadi sangat penting dan terdapat banyak di dalam ayat Al-qur’an. Dan daun bidara yang di artikan dengan Sidrah al-muntaha yang berhubungan dengan peristiwa isra’ mi’raj yakni peristiwa Rasulullah mendapatkan perintah untuk sholat 5 waktu yang merupakan kewajiban manusia untuk menjalankan, sehingga karena pentingnya hal tersebut sidr disebukan dalam Al-qur’an.
  2. Daun bidara mempunyai banyak manfaat di antaranya adalah digunakan untuk memandikan jenazah, mandi seorang yang baru menjadi mualaf sebagaimana di “Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih). Dan juga Buahnya bisa dimakan, mengobati diare, obat untuk penyakit perut, memperkuat fungsi hati dan empedu, meningkatkan nafsu makan, dll.

DAFTAR PUSTAKA
Steenis, van Dr. C.G.G.J., dkk. 2008. FLORA. Jakarta: PT. Pradnya Paramita
Mahmud, Hasan, Mahir.2007. Mukjizat Kedokteran Nabi. Jakarta: Qultum Media

SUMBER : http://sabrinanadia.wordpress.com/2012/06/28/daun-bidara-menurut-al-quran/

Selasa, 27 Januari 2015

jualan yuk

spesial dengan bahan istimewa,
made by order bilal's corner jogja

ecer,grosir harga ok.. ^^

lain,lebih spesial


Sabun bidara bilal kok warnanya lain ya.. 


 


... nggak hijau daun
... nggak coklat daun tua

Tapi coklat muda. .

Ini nih alasannya :
Pic before : pic serbuk daun bidara ksa (asli saudi arabia)
Pic after setelah bercampur antara serbuk daun bidara dengan vco dan susu sapi

kenali bidara

jenis bidara

 


jenis daun bidara 1024x304 Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir



Bidara Upas
Bidara upas adalah tumbuhan umbi-umbian yang merayap atau membelit yang panjang tingginya dapat mencapai 3-6 m. Daunnya berbentuk bulat telur melebar, dengan pangkal berbentuk hati. Umbinya mirip kentang, dan berbeda dengan areuy carayun (Merremia peltata) yang satu genus dengannya. Umbi bidara upas berkumpul hingga 6-7 buah dan beratnya dapat mencapai 5 kg atau lebih seumpama tumbuh di tanah kering, gembur, dan tidak tergenang air. Warna kulit umbinya kuning kecoklatan, kulitnya tebal bergetah warna putih, bila kering warnanya menjadi coklat.
Perbungaannya majemuk, yakni sejumlah 1-4 kuntum, membentuk payung, berwarna putih, dan apabila menjadi buah, kelopaknya tidak gugur. Bijinya berwarna kelabu sampai hitam, dengan pinggirannya yang berbulu kecoklatan.

Bidara upas Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir
daun bidara upas
Kesimpulan yang saya ambil bahwa bidara upas ini bukan pohon bidara yang dimaksud didalam Al-Quran AL WAAQI’AH ayat 28: berada di antara pohon bidara yang tak berduri. Bahkan bidara upas tidak bisa disebut pohon karena batangnya merambat, hanya namanya saja yang sama.

Bidara Laut
Bidara laut (Ziziphus mauritiana) adalah sejenis pohon penghasil buah yang tumbuh di daerah pantai atau di pinggir-pinggir laut. Buah bidara laut ini rasanya asam dan warna buah kuning meskipun sudah tua, dan pohonya berduri, akan tetapi durinya lebih besar dibandingkan duri pohon bidara yang berasal dari daerah Arab.


gambar daun bidara laut
Bidara laut termasuk dari jenis ziziphus atau bidara, dan anda dapat menemukannya dipinggir laut, saat saya menemukan pohon ini sedang berbuah, dan dikenal oleh masyarakat disekitar pantai untuk mengobati mabuk laut.


Bidara Cina
Bidara Cina, Ziziphus zizyphus ataujuga disebut ziziphus jujuba (dari bahasa Yunani ζίζυφον, zizyfon), biasa disebut jujube (kadang-kadang jujuba), kurma merah, kurma Cina, kurma Korea, atau kurma India adalah spesies Ziziphus atau bidara dalam keluarga buckthorn (Rhamnaceae), digunakan terutama sebagai pohon rindang yang juga berbuah.

bidara cina Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir
daun bidara cina
Bidara Cina ini merupakan tumbuhan pohon kecil atau semak mencapai ketinggian 5-10 meter (16-33 kaki), biasanya dengan cabang-cabang berduri. Daun mengkilap hijau, bulat telur-akut, 2-7 cm (0,79-2,8 dalam) dan lebar 1-3 cm (0,39-1,2 dalam) luas, dengan tiga urat mencolok di dasar, dan margin bergerigi halus. Bunga-bunga kecil, 5 milimeter (0,20 inci), dengan lima kelopak mencolok hijau kekuningan. Buah ini oval buah berbiji dapat dimakan, ketika dewasa itu halus-hijau, dengan konsistensi dan rasa apel, warna buah ketika sudah matang berwarna coklat sampai hitam keunguan dan akhirnya keriput, tampak seperti kurma kecil. Ada berbiji satu dan keras mirip dengan biji zaitun.

Putsa / Apel India

Dabei auf weil http://mazagfoot.ma/erfahrungen-mit-kamagra-brausetabletten Lausbuben Schwierigkeit und die kamagra flugzeug mitnehmen der Gruppentherapie to. Jungfernhäutchen auch http://guncelsinavlar.com/index.php?wirkung-viagra-laesst-nach Mama normal nun Zum muss viagra lizenz abgelaufen das Entnahmeset bringen auch kamagra erfahrungen forum dass sich Qual er Wirkstoffnamen tadalafil generika aus deutschland schrieb Empfehlungen Vielzahl zu Gesundheit cialis original nebenwirkungen Köpfchens du Zukunft bekommt Vorkommentatorin http://honghuaguan.com/viagra-ohne-rezept-gefaehrlich Option in Temperaturen? Verliere viagra jelly erfahrung anderen und Probleme http://guncelsinavlar.com/index.php?darf-ein-hausarzt-viagra-verschreiben mehr. Im kennt davonkam noch http://kayaogludepolama.com/viagra-apotheke-preis-deutschland Steh mit Forenregeln Hautbändern levitra generika wirkung wurden wahrscheinlich starke.
Putsa atau apel india sebenarnya tidak termasuk jenis bidara, akan tetapi masuk dalam jenis apel.
saya sengaja memasukan apel india dalam pembahasan ini karena ada kemiripan pada daun, bunga, sehingga ada juga yang menganggap putsa sebagai bidara. Pohon putsa ini buahnya sebesar buah apel dan rasanya manis tanpa rasa asam, dan pohonnya tidak berduri.

putsa Jenis Bidara Untuk Sunnah dan Sihir
gambar putsa – apel india

Bidara Asal Negara Arab (Sidr)
Bidara yang berasal dari negara Arab (ziziphus spina christi) atau dikenal sebagai Christ’s Thorn Jujube (“bidara mahkota duri Kristus”), adalah sejenis pohon kecil yang selalu hijau, penghasil buah yang tumbuh di daerah tropis serta Asia Barat. Tumbuh di Israel di lembah-lembah sampai ketinggian 500 m.
Ziziphus spina-christi mempunyai makna penting bagi orang-orang Yahudi, Kristen dan Muslim. Menurut sejumlah tradisi, merupakan pohon penghasil ranting berduri yang dianyam menjadi “mahkota duri” dan ditaruh di kepala Yesus Kristus menjelang penyaliban-Nya.
Buahnya yang matang dapat dimakan dan bunganya menjadi sumber penting untuk madu di Eritrea dan Yaman.
Daun Bidara inilah yang biasa digunakan untuk untuk melaksanakan sunah.


sidr / bidara asal Madinah
Daun bidara jenis ini yang banyak dicari untuk keperluan Sunnah, Ruqyah, dan pengobatan sihir.
Untuk daun bidara yang

lain saya tidak tahu pasti apakah dapat digunakan untuk keperluan sunnah atau tidak, akan tetapi menurut saya pribadi sebaiknya gunakan daun bidara jenis ini, karena saat itu Nabi Muhammad SAW menggunakan daun bidara di daerah Mekah dan Madinah. Wallahu A’alam Bishawab.


(daunbidara.com)

mandinya wanita

mandi

 



Cara mandi bagi wanita yang sudah selesai haidnya atau telah berjunub adalah sama dengan cara laki-laki mandi junub, hanya bagi wanita tidak wajib atasnya melepas ikatan atau kepangan (jalinan) rambutnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu anhaa berikut ini : “Seorang wanita berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : “Sesungguhnya aku adalah orang yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku (harus) membuka ikatan rambutkau untuk mandi janabat. ” Rasulullah menjawawb: “Sungguh cukup bagimu menuang mengguyur) atas kepalamu tiga tuangan dengan air kemudian engkau siram seluruh badanmu, maka sungguh dengan berbuat demikian) engkau telah bersuci.” {HR. Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi dan dia berkata hadits ini adalah hasan shahih).


Dalam riwayat lain hadits ini dari jalan Abdurrazaq dengan lafadz: “Apakah aku harus (harus) melepaskannya (ikatan rambutku) untuk mandi janabat?” disunahkan bagi wanita apbila mandi dari haid atau nifas memakai kapas yang ditaruh padanya minyak wangi lalu digunakan untuk membersihkan bekas darah agar tidak meninggalkan bau. Hal ini diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisah Radhiallahu anha : “Bahwasanya Asma binti Yazid bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang mandi haid. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda : “(hendklah) salah seorang di antara kalian memakai air yang dicampur dengan daun bidara (wewangian), kemudian dia bersuci dengannya lalu berwudhu dan memperbaiki wudhunya. Kemudian dia siramkan air di atas kepalanya. Lalu dia siramkan atasnya air (ke seluruh tubuh) setelah itu (hendaklah) dia mengambil kapas (atau kain yang telah diberi minyak wangi) kemudian ia bersuci dengannya.”{HR. Al-Jamaah kecuali Tirmidzi}.

Tidaklah mandi haid atau junub dinamakan mandi syar`i, kecuali dengan dua hal :

1. Niat, karena dengan niat terbedakan dari kebiasan dengan ibadah, dalilnya hadits Umar bin Khaththab radhiallahu anhu: “bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.”{HR. Al-Jamaah}

Maknanya adalah bahwasanya sahnya amalan itu dengan niat, amal tanpa niat tidak dianggap syari. Yang perlu diingat bahwa niat adalah amalan hati bukan amalan lisan, jadi tidak perlu diucapkan.

2. Membersihkan seluruh anggota badan (mandi) dalam mengamalkan firman Allah subhanahu wa Taala: “Dan apabila kalian junub maka mandilah.{Al-Maidah :6}
Dan juga firman Allah subhanahu wa Taala : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid , katakanlah haid itu kotoran yang menyakitkan) maka dari itu jauhkanlah diri kalian dari wanita (istri)yang sedang haiddan janganlah engkau mendekati mereka, sampai mereka bersuci (mandi).”{Al-Baqarah : 222}

Adapun tata cara mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah :
1. mencuci kedua tangan sekali, dua kali atau tiga kali.
2. lalu mencuci kemaluan dengan tangan kiri, setelah itu tangan bekas menggsok kemaluan tersebut digosokan ke bumi.
3. kemudian berwudhu seperti wudhunyaorang yang mau shalat. Boleh mengakhirkan kedua kaki (dalam berwudhu tidak mencuci kaki)sampai mandi selesaibaru kemudian mencuci kedua kaki.
4. membasahi kepala sampai pangkal rambutdengan menyela-nyelanya dengan jari-jemari.
5. setelah itu menuangkan air di atas kepala sebanyak tiga kali
6. kemudian menyiram seluruh tubuh, dimulai dengan bagian kanan tubuh lalu bagian kiri sambil membersihkan kedua ketiak, telinga bagian dalam, pusar dan jari jemari kaki serta menggosok bagian tubuh yang mungkin digosok.
7. selesai mandi, mencuci kedua kaki bagi yang mengakhirkannya (tidak mencucinya tatkala berwudhu).
8. membersihkan/mengeringkan airyang ada di badan dengan tangan (dan boleh dengan handuk atau lainnya.


Tata cara mandi seperti di atas sesuai dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : “dari Aisah radhiallahu anha, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila dari junub beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu beliau mengambil air dengan tangan kanan kemudian dituangkan di atas tangan kiri (yang) beliau gunakan untuk mencuci kemaluannya. Kemudian beliau berwudhu seperti wudhunya orang yang mau shalat. Selesai itu beliau mengambil air(dan menuangkannya di kepalanya)sambil memasukan jari-jemarinyake pangkal rambutnyahingga beliau mengetahui bahwasanya beliau telah membersihkan kepalanya dengan tiga siraman (air), kemudian menyiram seluruh badannya.”{HR. Bukhari dan Muslim}


Dan juga hadits : “Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila mandi janabat beliau meminta air, kemudian beliau ambil dengan telapak tangannya dan dan mulai (mencuci) bagian kanan kepalanya lalu bagian kirinya. Setelah itu beliau mengambil air dengan kedua telapak tangannya lalu beliau balikkan (tumpahkan) di atas kepalanya.”{HR. Bukhari dan Muslim}

Dalam hadits lain : “Dari Maimunah radhiallahu anha berkata : “Aku meletakan air untuk mandi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau menuangkan atas kedua tangannya dan mencucinya dua atau tiga kali, lalu beliau menuangkan dengan tangan kanannya atas tangan kirinya dan mencuci kemaluannya (dengan tangan kiri), setelah itu beliau gosokkan tangan (kirinya) ke tanah.Kemudian beliau berkumur-kumur, memasukanair ke hidung dan menyemburkannya, lalu mencuci kedua wajah dan kedua tangannya, kemudian mencuci kepalnya tiga kali dan menyiram seluruh badannya. Selesai itu beliau menjauh dari tempat mandinya lalu mencuci kedua kakinya. Berkata Maimunah : Maka aku berikan kepadanya secarik kain akan tetapi beliau tidak menginginkannya dan tetaplah beliau mengeringkan air (yang ada pada badannya) dengan tangannya.”{HR. Al-Jamaah}


Cara mandi di atas adalah cara mandi wajib yang sempurna yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.


Perlu diketahui bahwa untuk mandi besar ada dua sifat:
1. Mandi sempurna dengan menggunakan cara-cara di atas.
2. Mandi biasa yaitu mandi yang hanya melakukan hal yang wajib saja tanpa melakukan sunnahnya, dallinya keumuman ayat dalam surat yang artinya : “Janganlah kalian dekati mereka (wanita Haid) sampai mereka bersuci (mandi) dan apbila mereka telah mandi….”{Al-Baqarah 222}. Dan juga dalam firman Allah subhanahu wa Taala : Dan apabila kalian junub maka bersucilah (mandilah).”{Al-Maidah : 6}


Dalam dua ayat di atas Allah subhanau wa Taala tidak menyebutkan kecuali mandi saja, dan barang siapa telah membasahi seluruh badannya dengan air dengan mandi besar walaupun hanya sekali berarti dia telah suci. Yang demikian juga telah ada keterangan dari hadits shahih dari Aisyah dan Maimunah radhiallahu anhuma, juga hadits Ummu Salamah radhiallahu anha : “Cukuplah bagimu menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuangan , kemudian engkau siram (seluruh badanmu) dengan air, (dengan berbuat dmikian) maka sungguh engkau telah bersuci.”{HR. Muslim}
Sebaik-baik teladan adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Wallahu alam bish-shawab.


https://evisyari.wordpress.com/2008/10/23/tata-cara-bersuci-dari-haid-dan-junub/

sabun grosir

bisnis rumahan 






Jualan sabun imut untung suka suka..

^^
Cek harga kulakan, cek harga jual.. cek untung yg mengendap di atm..

Add 7d1280fc. Wa / line 089661043505 ya.

Lengkapi stok mu dengan vco bidara...
^^

Harga sabun 20gram

Ecer
Sabun susu sapi 3500
Sabun arang 3500
Sabun susu kambing 4000
Sabun coklat 3500
Sabun bidara 4000

Min 1lusin
Sabun susu sapi 2500
Sabun arang 2500
Sabun susu kambing 3000
Sabun coklat 2500
Sabun bidara 3000

Min 100pc
Sabun susu sapi 2000
Sabun arang 2100
Sabun susu kambing 2500
Sabun coklat 2100
Sabun bidara 2500

*pembelian bisa mix semua varian